cerita 7 potong daging

cerita 7 potong daging

gambar: daridapurku.wordpress.com

idul adha adalah saat untuk berbagi,, bukan hanya sekedar berbagi daging qurban, tapi keikhlasan untuk menyisihkan sedikit rejeki untuk membeli hewan qurban yang harga meningkat 2 kali lipat dibanding hari biasa, berbagi dengan orang di sekitar, makna dari keikhlasan itu sendiri saya rasakan…  siang itu… sehari setelah idul adha yang ditetapkan pemerintah.

siang itu, saya kebagian tugas jaga warung.. tepat waktu untuk makan siang, siang itu perut saya diisi oleh makanan yang penuh dengan keikhlasan..

di belakang warung ada kamar kecil yang disewa nenek2,, orang-orang sering memanggilnya mak min, emak memang ga punya anak atau suami tapi dia bukan sebatang kara, sekitar 100 meter dari kamar itu tinggal adik & keluarganya, tapi emak memilih untuk tinggal sendiri di kamar yang hanya 2×4 meter itu. Tempat tidur, kompor minyak, kursi – meja kecil berdesakan di dalamnya, di atas tempat tidur melintang tali tambang tempat digantungkan baju2nya.

Biasanya setiap qurban, emak selalu dapet banyak daging, yang sebagian besar dijual lagi sama emak, mungkin maksudnya sayang takut keburu busuk, karna ga bisa dimasukkin ke kulkas dan ga mungkin abis dimakan sendiri dalam waktu sehari.

tapi qurban taun ini, emak cuman dapet sedikit, hanya 2 kantung daging yang beratnya mungkin sekitar 1/2 kg, sebelumnya emak cerita kalo sekarang harga bawang merah lagi mahal,

“mahal ayeuna, emak tadi beli seribu cuman dapet 2 biji” komentarnya

saya hanya bisa mengiyakan,,

sekitar setengah jam kemudian, emak dateng ke warung untuk minjem mangkok,

“kinanti, pinjem mangkok satu, masih lama kan pulangnya?? jangan kemana2 yah?? bentar”

sedikit bingung, saya cuman bisa ngangguk..

semenit kemudian emak dateng lagi sambil membawa mangkok yang dipinjamnya tadi

“emak tadi masak daging kurban, ini buat kinanti yah, jangan lupa dimakan mumpung masih panas”

saat menerima mangkok itu, rasa haru saya pun timbul..

mangkok telah terisi 7 potong daging semur, tidak banyak, dan rasanya pun tidak luar biasa, tapi penuh dengan rasa ikhlas,,

bukan sekali itu emak membagi makanan yang dimilikinya,

emak yang tinggal di kamar kecil penuh sesak,
emak yang lebih memilih tinggal sendiri daripada hidup menumpang di rumah adiknya,
emak yang hanya punya daging sedikit, rela dia bagi untuk orang lain,, padahal mungkin emak bisa makan daging hanya setaun sekali..
emak yang hidup kekurangan dapat berbagi,,
mengapa orang2 yang berkecukupan termasuk saya belum bisa seperti emak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s